Sekilas info dari Wikipedia (Bah. Inggeris):

Indonesia was admitted as the 60th Member State of the United Nations on September 28, 1950.[2] Addressing the General Assembly as the first Indonesian Ambassador to the United Nations, Palar thanked those that have supported the Indonesian cause and pledged that Indonesia would assume the responsilities of being a member state. Palar continued his work at the UN until being assigned the Indonesian ambassadorship for India. In 1955, Palar was requested back to Indonesia and was instrumental in planning the Asia-Africa Conference, which gathered Asian and African states, most of which were newly independent. After the conference, Palar resumed his ambassadorship responsibities by representing Indonesia in East Germany and the Soviet Union. From 1957 to 1962, he became the Ambassador to Canada and afterwards returned to the UN as Ambassador until 1965. Sukarno withdrew Indonesia’s membership in the UN because of the Indonesia-Malaysia conflict and upon the selection of Malaysia into the Security Council. Palar then became the Ambassador to the United States. Under new leadership ofSuharto in 1966, Indonesia requested the resumption of membership to the UN with a message to the Secretary General that was delivered by Palar.

Informasi dibawah ini disusun oleh Dr. M. Sugandi-Ratulangi berdasarkan informasi di BWSA, (Biografisch Woordenboek van het Socialisme en de Arbeidsbeweging in Nederland) yang di peroleh melalui internet.

Nicodemus Lanbertus  Palar. Dikalangan orang Minahasa dikenal sebagai Oom Babe Palar. Siapakah dia sebenarnya?

Oom Babe Palar tercatat dalam sejarah sebagai putera Minahasa yang lahir di Rurukan pada 5 Juni 1900 sebagai anak dari  Gerrit Palar, pengawas sekolah, dan Jacoba Lumanauw. Pada 26 Juni 1935 ia menikah dengan Johana Petronella (Joke) Volmers dan perkawinan ini dikaruniai dua orang puteri dan seorang putera

Ia dibesarkan di Minahasa dalam lingkungan Kristen-protestan, menyelesaikan pendidikan  MULO di Tondano dan meneruskan ke AMS (SMA) di Jogyakarta, dimana ia pertama kali berkenalan dengan ide-ide politik dan  cita-cita kebangsaan. Ia menjadi anggauta dari organisasi “Jong Minahassa” dan setelah lulus AMS ia memulai studinya di Technische Hoogeschool di Bandung dimana beliau berkenalan dengan Soekarno dan mahasiswa-mahsiswa nasionalis lain. Disana pula ia aktip dalam penyelenggaraan kegiatan kemahasiswaan. Namun karena kesehatannya kurang baik maka selama hampir satu tahun ia perlu beristirahat penuh. Iapun terpaksa memutuskan pelajarannya di TH dan setelah sembuh ia bekerja beberapa waktu pada Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM). Ditahun 1924 ia mendaftarkan dirinya di RH (Rechtshoogeschool) di Batavia. Disana ia mulai mengenal azas-azas sosial-demokrasi. Sehubungan dengan pergumulan 1926-1927  yang terjadi di Nederlandsch-Indie dimana banyak pejoang-pejoang kemerdekaan dibuang ke Boven-Digul maka keluarganya  merasakan  perlu ia pindah ke negeri Belanda ditahun 1928.

Dinegeri Belanda beliau aktip sebagai wartawan dan  menjadi anggauta Dewan Perwakilan Rakyat Belanda mewakili  Sociaal Democratische Arbeiders Partij  (SDAP, yakni Partai Sosial Demokrat Pekerja)  dan Partij van de Arbeid  (PvdA). Ia disana dikenal  sebagai sosok yang tenang, halus tata-krama, yang mendambakan keseimbangan (harmonie)  dan sebagai nasionalis sejati. Demikianlah persona Palar selama keberadaan di negeri Belanda selama duapuluh tahun (1928-1947).

Ditahun 1930 Palar menjadi anggauta dari Komisi Kolonial dari SDAP dimana ia membantu persiapkan dasar dari upaya-upaya untuk perbaikan  hubungan kolonial yang sedang dijalankan di Indie dan memperjuangkan  pengakuan atas perjuangan kemerdekaan Indonesia. Mulai 1933 ia menjadi sekretaris Komisi Kolonial SDAP yang ditugasi menghadakan hubungan  berkala dengan organisasi-organisasi politik dan organisasi pekerja  di Indonesia serta mengumpulkan informasi yang aktual dibidang sosial-ekonomi . Teristimewa pula ia bertugas untuk memperbaiki pengertian pers Belanda tentang  perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dengan gigih ia perjuangkan agar  SDAP menyutujui  pembentukan satu Biro Pers untuk/mengenai Indonesia didalam Komisi Kolonial. Hal ini  kemudian disetujui. Maka didirikanlah “Persindo” dimana ia menjadi redaktur utama. Satu jasa besar dari Palar adalah bahwa ia menulis Sejarah Perkembangan Perserikatan Pekerja di Indonesia yang diterbitkan dalam sebelas bagian di majalah “De Vakbeweging” dari Juli 1933 – Agustus 1934.

Akhir 1938 Palar disertai isteri dikirim ke Indonesia untuk mengadakan kunjungan orientatip keseluruh daerah selama setengah tahun dan sekembalinya di negeri Belanda ia  melaporkan bahwa  ide perjuangan kemerdekaan sedang bergelora di Indonesia.

Perang dunia kedua mebawa masa yang sulit bagi Palar sebab Persindo dibubarkan oleh rejim pendudukan Jerman dan ia harus berupaya untuk mencari nafkahnya dengan melaksanakan berbagai pekerjaan sekedar untuk dapat hidup. Selama beberapa waktu ia bekerja pada satu Laboratorium  di Amsterdam dan sekaligus ia berupaya meningkatkan pemasukan finansialnya dengan memberikan pelajaran bahasa Indonesia dan bermain gitar dibeberapa orkes di Belanda. Selama pendudukan oleh Jerman ia sering berbicara dihadapan kelompok-kelompok illegal di Belanda mengenai perspektip nasionalisme di Indonesia. Bersama isterinya ia membantu menyebarkan pamplet dan pemberitaan illegal.

Setelah pembebasan Belanda ia diangkat sebagai redaktur urusan Indonesia pada harian “Het Vrije Volk”. Ia juga menjadi anggauta Komisi Kolonial SDAP yang diubah namanya menjadi Komisi Hubungan Nederland-Indonesia. Dalam bulan Oktober 1945 Palar ditugaskan ikut sertakan dalam satu delegasi yang berangkat ke Inggeris, dimana  Labour Party sedang mengolah masalah dekolonisasi India. Disana Palar banyak bertukar pikiran dengan pendukung anti-kolonialisme  dan pada akhirnya delegasi ini mendapat anjuran dari pihak Labour Party agar segera  memulai pendekatan kepada pihak Soekarno dan pendukungnya untuk bersiap mengadakan perundingan dengan mereka.

Pada tanggal 20 Nopember 1945 Palar menjadi anggauta Dewan Perwakilan Rakyat (Tweede Kamer) Belanda. Ia kemudian bersama dengan dua anggauta berbangsa Indonesia yang adalah wakil dari Perhimpoenan Indonesia. Berkali-kali Palar menyampaikan pendapatnya bahwa hubungan-hubungan internasional akan memainkan peran penting untuk nasionalisme Indonesia dan ia juga menentang sekuat-kuatnya pengiriman  pasukan-pasukan militer ke Indonesia. Beberapa minggu sebelum penandatanganan kesefakatan Linggajati Palar dikirim ke Indonesia sebagai tamu dari Soekarno dan banyak berbicara dengan para pemimpin Republik Indonesia. Beliau sempat ditawarkan jabatan menteri. Pada perjalanan ini Palar menjadi yakin bahwa  Republik Indonesia didukung oleh seluruh  wilayah Indonesia.

Dalam pada itu sewaktu Palar melaksanakan perjalanannya di Indonesia pihak agen-agen dinas rahasia Belanda menyebarkan berita yang palsu bahwa Palar adalah agen rahasia Rusia yang ditugaskan oleh kedutaan Rusia di Belanda untuk mengawali hubungan antara Sutan Syahrir dan Moskow. Hal ini yang ternyata sama sekali tidak benar dan diperdebatkan di DPR Belanda pada 10 dan 11 Juli 1947.

Pada 11 Juli 1947 Palar memberikan pidato yang terpanjang dan yang terakhir di DPR Belanda dimana ia sekeras-kerasnya menentang penggunaan senjata terhadap Republik Indonesia. Ia menyarankan dengan sangat bersemangat  bahwa yang diperlukan adalah penengahan internasional untuk mengatasi masalah-masalah di Indonesia.

Dalam pada itu di Batavia rejim Belanda kolonial yang getol ingin berkuasa kembali telah mempersiapkan aksi militer. Dikalangan DPR Belanda terjadi perpecahan intern didalam partai kubu sosialis, karena sebagian setuju dengan usul non-kekerasan sedangkan sebagian lain lagi tidak.  Sewaktu kemudian yang terakhir ternyata menang maka bagi Palar ini adalah awal dari akhir hubungannya dengan sosialisme Belanda.

Satu hari setelah penyerbuan militer ke pihak Republik Indonesia Palar mengundurkan diri dari keanggautaannya di DPR Belanda dan juga dari anggautaannya pada  partai sosialis. Atas dasar lobby yang kuat, yang mungkin kini perlu diriset ulang terlepas dari kepentingan-kepentingan politik di Indonesia dimasa itu, maka ternyata bahwa pada 5 Agustus 1947   Dewan Keamanan berintervensi dan memerintahkan penghentian  aksi militer  ini. Menurut informasi sumber maka hal ini adalah atas dasar inisiatip dari Australia dan India.

Atas permintaan Syahrir maka Palar menjadi anggauta dari delegasi Indonesia ke PBB di Lake Success tempat dimana PBB bersidang. Bagi Palar ini menjadi awal dari satu karir diplomatik yang cemerlang  dalam mengabdi kepada tanah airnya. Tahun 1948 beliau ditunjuk menjadi  ketua delegasi  Republik Indonesia pada PBB dengan bersatus menteri. Selama 5 tahun ia mengemban jabatan ini. Dalam masa itu ia menjadi satu faktor penting dalam upaya mengatasi konflik Indonesia-Nederland dan pada penyerahan kedaulatan RIS-RI ia menyiapkan peresmian keanggautaan  RI pada PBB.

Serah terima kedaulatan RIS ke RI
Serah terima kedaulatan RIS ke RI

Tahun 1953 meninggalkan PBB dan diangkat menjadi Duta Besar Indonesia untuk India setelah itu ia diangkat menjadi Duta Besar Indonesia untuk Uni Soviet merangkap Duta Besar di India (1953-1956), Republik Federasi Jerman (1956-1057).  Tahun 1957-1962 menjadi Duta Besar di Kanada, dan dalam periode ini mewakili Indonesia sebagai ketua delegasi dalam sidang tahunan PBB. Tahun 1962 untuk kedua kalinya sebagai Wakil tetap Indonesia  di PBB. Atas instruksi Presiden Soekarno Palar mengatur penarikan diri Rep. Indonesia dari PBB sehubungan dengan kritik internasional atas ats politik konfrontasi terhadap Malaysia.

Ditahun 1967 Palar  ditugaskan oleh Presiden Suharto untuk mengatur pengembalian Republik Indonesia  sebagai anggaute di PBB. Hal ini dilaksanakan selama beberapa waktu setelah mana ia menarik diri dari semua kegiatan diplomatik untuk hidup dengan tenang bersama keluarganya di kediamannya yang rindang di kawasan Menteng, Jakarta.

Jakarta, 6 Nopember 2008

Lihat juga Sekelumit Sejarah Babe Palar oleh Harry Kawilarang