Monumen SAM RATULANGIE, Tondano
Monumen SAM RATULANGIE, Tondano

DR. G.S.S.J RATULANGI: Prediksi, Peran & Harapan

by Albert Kusen on Thursday, June 30, 2011 at 5:46pm

Oleh: Drs. Albert WS Kusen

Memperingati Hari Kematian Alm Om Sam Ratulangi 30 Juni 1949

Amanat PYM Presiden RI Ir. Soekarno ketika menyerahkan secara simbolis Patung Dr. G.S.S.J Ratulangi dalam acara penutupan Musyawarah Pemuda Kawanua di Gedung Pramuka Jakarta, pada anggal 18 Agustus 1960,  di hadapan para pemudi – pemuda Kawanua tentang sosok Sam Ratulangi (SR), antara lain dikatakan “…Ya, Dr. G.S.S.J Ratulangi, alangkah besarnya manusia ini. Tiap-tiap bangsa mempunyai orang-orang ‘besar’, bukan dalam arti pangkat atau kedudukan, tetapi dalam arti ‘nilai’, ‘isi’, ‘kwaliteit’. Maka oleh karena itulah SR yang dimiliki bangsa Indonesia pantas dan wajib sekali untuk diberi penghormatan yang tinggi.

Lebih lanjut diungkapkan oleh Soekarno, bahwa “…kata ’Indonesia’ saudara-saudara pertama kali dengan terang-terangan ditulis oleh SR dalam nama Levensversekering Maatchappij. Itu adalah tulisan yang berbunyi ‘Indonesia’, di wilayah tanah air kita Indonesia. SR adalah satu-satunya orang Indonesia yang pertama kali menulis perkataan Indonesia ini bukan sekedar perkataan saja, tetapi adalah satu idée persatuan bangsa. Kata SR adalah ’Ideeku’, “…supaya kepulauan ini yang beratus-ratus, beribu-ribu, bersatu dan diberi satu nama, dan nama ini, bersama-sama dengan pemuda-pemuda, pemudi-pemudi yang ada di ‘Eropa’, pada waktu itu, ‘telah kami tetapkan: Indonesia”

Dalam amanatnya, Bung Karno mengingatkan kepada pemudi dan pemuda Kawanua, agar merefleksikan dalam perjuangan makna  pidato Sam Ratulangi di ‘All Idie Congress’ yang termashur itu, yaitu “Ons hart trek tons naar da top van de Kalabat, maar onze voeten brengen ons tot Airmadidi (”Cita-citaku setinggi gunung Kalabat, tapi sayang kakiku hanya sanggup di kaki Airmadidi”). Inilah sekelumit pidato Soekarno yang merefleksikan atas sosok Sam Ratulangi sebagai anak bangsa yang dengan tegas disebut sebagai ‘Bapak Bangsa’ Indonesia (Sinolungan 2001).

Pidato yang sempat disitir oleh Bung Karno di atas,  sebenarnya mengajak kita semua baik sebagai anak bangsa maupun sebagai Tou-Minahasa untuk meneruskan cita-cita Sam Ratulangi  sebagai sosok pejuang yang terdorong oleh etos ‘Sei’reen’ yang tidak berdiam diri (apatis) menyaksikan keberadaan bangsanya, negerinya, dan sesamanya yang terkebelakang dari bangsa lain (kolonial).

Analisis Bio-Sosio-Budaya dan Dinamika Kehidupannya

Dalam konteks ke-Minahasa-an,  Sam Ratulangi merupakan salah seorang Minahasa, lahir di Tounkuramber Tondano pada tanggal 5 November 1890. Berdasarkan model bio-sosio-budaya (lihat Alwinsen 2010), maka dapat dikatakan faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas sosok Sam Ratulangi dilihat dari aspek fisik (faktor masukan) berasal dari keluarga berada alias tergolong ‘kaya’ di kampungnya, yakni putra dari Jozias Ratulangi dan Augustina Gerungan.  Hal ini memungkinkan kondisi biologisnya bermutu (gizi).  Apalagi kebiasaan sejak kecil ia rajin ke kebun (olah raga) bersama dengan dua pembantunya yang setia yang bernama Denan  dan Tete Tialo. Melalui kedua pembantunya ini, dari aspek non-fisik (faktor masukan) mempengaruhi kepribadian (mentalitas) Sam Ratulangi.

Pembantunya yang bernama Denan (berbadan kekar, pemberani dan loyal), sangat dikagumi oleh Sam Ratulangi, di mana selain setia atau loyal dalam melindungi majikannya, juga seorang yang pemberani, jujur, dan bertanggung jawab dalam setiap melaksanakan tugas. Selama bertahun-tahun menemani Sam Ratulangi, tentunya melalui kedua pembantunya dipandang sebagai agen yang berperan dalam membentuk jati dirinya sebagai manusia yang berkehendak; manusia yang senantiasa berefleksi dan berinteraksi, di mana melalui pembantunya Denan dianggap sebagai  sosok yang  berarti dalam membentuk watak/karakternya yang kelak akan menjadi sebagai manusia yang bermutu. Demikian juga interaksinya dengan tokoh Tete Tialo, seorang tua yang banyak pengalaman (budaya), banyak memberi masukkan melalui cerita-cerita  kuno Minahasa yang sarat dengan filosofi dan pandangan hidup di dunia (world-view).

Dengan demikian, secara sosiobudaya, dinamika kehidupan Sam Ratulangi sejak masa kanak-kanak sampai remaja hidup di desa Tounkuramber Tondano, senantiasa berinteraksi dengan lingkungan sosialnya (keluarga+kedua pembantunya) membentuk karakternya sebagai manusia yang selalu ingin ’maju’. Terutama sikapnya terhadap dunia pendidikan formal, mendorong etos kependidikannya sampai berhasil meraih gelar kesarjanaan,  yang dikombinasi dengan banyak pengalaman hidup, merupakan dampak yang  memungkingkan telah terkonstruksinya secara sosial nilai-nilai Minahasa dalam ‘kediriannya’, menjadikan sosok Sam Ratulangi  sebagai Tou-Keter, Tou-Nga’asan, dan Tou-Sama/Le’os.

Dalam  tulisanya tentang ‘Minahasa Culture and Traditions (Fikiran Rakyat 31 Mei 1930) dalam Supit (2004:178), SR menyatakan kebanggaannya sebagai Tou-Minahasa, yakni: “Setiap bangsa  terhormat menerima pusaka suci kebudayaan dan tradisi dari pendahulunya. Kita harus melestarikan budaya dan tradisi Minahasa dengan segenap jiwa kita, karena jiwa itu sendiri terdiri dari bukan dari siapa kecuali dari budaya dan tradisi itu sendiri. Sekalipun budaya dan tradisi itu bisa berubah dan akan dimoderenkan, akan tetapi dasar atau benih (jati diri) tidak bisa diubah karena secara sosial telah terkonstruksi dalam darah dan hati bangsa kita (Minahasa)”.

Sumekolah. Sebagai manusia yang senantiasa berkehendak untuk meningkatkan kualitas dirinya sebagai manusia berilmu, adalah melanjutkan tingkat pendidikan formalnya yang dianggap terbatas.  Maka berangkatlah SR ke tanah Jawa demi untuk meningkatkan dan meraih sesuatu yang namanya pendidikan lanjut (sumikolah). Dihasilkan dari konsep Tou-Keter (manusia keras/teguh pada pendirian), Tou-Nga’asan (manusia berakal/intelektual), dan Tou-Sama/Le’os (manusia baik/beradab)  yang kemudian menjadi ‘Pa tu’usan’ dan ‘Pa‘endon Tua’ (teladan).

Merasa tidak cukup tingkatan pendidikan formal di tanah Jawa, maka atas restu orang tua/keluarga berangkatlah dia ke bumi eropa demi untuk menggapai cita-citanya menjadi manusia yang berilmu tinggi. Pertama-tama memilih di Vrije Universiteit Van Amsterdam (VU). Oleh karena persyaratan akademik tidak memungkinkan (tidak memiliki ijazah KWS MO pendidikan matematika), pindahlah dia ke Eidgenossiche Technische Hochschule (ETH) di Zurich (1915). Pada tahun 1919 Sam Ratulangi berhasil memperoleh gelar Doktor Matematika dan Fisika. Selesai pendidikan tingginya pulanglah dia ke negerinya semula (belum Indonesia). Ia memulai karir pendidikan sebagai guru ilmu pasti pada AMS bagian B di Yogyakarta (lihat Sondakh 1994; Supit 2004).

 Prediksi, Harapan & Perannya

Berdasarkan latar belakang keilmuan di bidang matematika dan fisika, memungkinkan sosok SR diakusi sebagai seorang futurolog. Sebagaimana hal ini dianalisis oleh mantan rektor IPB Prof.Dr. Andi H. Nasution, bahwa Sam Ratulangi terbiasa berpikir dan berargumentasi menggunakan nalar ‘deduksi’ dan ‘induksi’ karena latar belakang ilmunya itu (doktor fisika). Kemampuan inilah yang menjadi keutamaannya sebagai ahli politik yang mampu melihat jauh ke depan.

Sehunungan dengan itu, maka tidak ada salahnya Sam Ratulangi dinobatkan sebagai seorang futurolog yang dimiliki bangsa Indonesia, jauh sebelum munculnya Alvin Toffler sebagai Futurolog terkenal di dunia. Jurnal atau tabloid ‘Nationale Commenteren’ yang diterbitkan sendiri oleh Sam sebelum republik ini berdiri merupakan media komunikasi tempat dia mengekspresikan ke-Tou-Ngaasan-nya.

Kepakarannya sebagai seorang futurolog, tampak dalam tulisan atau artikel-artikelnya yang mengemukakan  kondisi dan situasi Hindia Belanda (Indonesia) dalam kemelut politik pra-perang pasifik, di mana tulisan-tulisannya menjadi bacaan umum, terutama bagi kalangan pejuang untuk menyimak ketajaman analisis dan argumentasinya berkenaan dengan kondisi dan situasi tersebut.

Meskipun perang Asia Timur belum meledak, dalam  bukunya Indonesia di Pasifik (1937) Sam Ratulangi  menulis: “Pasifik telah menciptakan sebuah kawasan ekonomi dan politik tersendiri, dengan masalah-masalah sendiri, yang basis dasarnya adalah Amerika Serikat dan Jepang”. Walau berada dalam kondisi dan kurun waktu yang berbeda, tetapi pandangannya ke depan ternyata menjadi kenyataan dengan munculnya peranan AS dan Jepang yang kemudian mengembangkan kemajuan ekonomi dan teknologi di kawasan pasifik (Kawilarang 2007:3).

Kecuali itu, ia juga memprediksi, akan   bertambahnya lagi kekuatan baru dunia seperti USSR  (Uni-Soviet) dan China, di mana akan terjadi konflik – perang pasifik dan Hindia Belanda akan terseret dalam perang tersebut.  Selanjutnya hasil analisis Ratulangi meprediksikan bahwa berakhirnya perang pasifik dengan kemenangan AS atas Jepang akan membawa implikasi semakin cepatnya kemerdekaan Indonesia. Oleh karena  itu,  dalam bukunya tersebut Sam Ratulangi sempat  memberi saran agar perkembangan ekonomi di Indonesia di masa depan (terutama sekarang ini kita terseret arus globalisasi) perlu ditingkatkan kualitas pemimpin nasional agar memiliki kemampuan untuk mengubah keadaan perekonomian yang mengandalkan sektor agraris (pertanian) atau sumber daya alam, ke sektor ekonomi industri (teknologi).

Refleksi

Memang harus diakui, bahwa di antara orang-orang Minahasa yang teridentifikasi sebagai kaum cendekiawan sebelum proklamasi kemerdekaan RI (lihat Winter 1985), Sam Ratulangi memiliki kelebihan dan/atau keunggulan tersendiri. Yang mana selain dia sebagai seorang cendekiawan – intelektual yang bergelar doktor di bidang matematika dan fisika, ia juga secara otodidak (kutu buku) sehingga menguasasi ilmu politik, ekonomi, sejarah dan etnografi (antropologi). Hal ini  boleh jadi karena ditopang  oleh penguasaan bahasa asing – aktif dan pasif (Belanda, Jerman dan Inggris)  maupun atas dasar kemampuan nalarnya, memiliki etos kerja yang tinggi serta senantiasa selalu menunjukkan kemauan yang sangat keras.

Kelebihan lainnya adalah, berdasarkan catatan sejarah Sam Ratulangi yang pernah diakui oleh mendiang presiden pertama RI Ir. Soekarno sebagai Bapak Bangsa, sempat bersama-sama dengan Mr.A.A. Maramis dan sejumlah pemuda dan mahasiswa Pengangsaan dari kawasan timur Indonesia (Minahasa, Ambon dan Makasar), terlibat langsung pada lahirnya Proklamasi Kemerdekaan RI. Bahkan salah satu jasanya yang fundamental adalah ketegasannya sebagai anak bangsa untuk menolak Indonesia dijadikan negara yang berideologi menambahkan syariat agama (piagam Jakarta). Setuju atau tidak Dr. G.S.S.J Ratulangi adalah salah satu tokoh yang berperan dalam menegakkan integrasi nasional (sila ketiga dari Pancasila), selain peran Laksamana Maeda, wakli presiden pertama Bung Hatt, dan Mahasiswa-mahasiswa asal Intim.

DAFTAR PUSTAKA

Alwinsen, Bern (2010) Biocultural Analysis of Human Resources. In Manpower Journal, 17/IX

Kawilarang, Harry (2006) Sam Ratulangi: Indonesia di Pasific. Makalah.

Kusen, Albert W.S  (2007) Antropologi Minahasa: Identitas & Revitalisasi. Buku Teks. Belum Diterbitkan.

Ratulangi, Sam (1930) Fikiran Rakyat, 31 Mei. Dalam dr. B.A Supit

Sinolungan, A.E, 2001. Glosari Nama Fam Orang Minahasa.Tomohon: Sinode GMIM.

Sondakh, A.J, 1994. Si Tou Timou Tumou Tou: Peningkatan Peran Serta Kawanua Di Bidang Politik/Kenegaraan. Makalah Diskusi Internal Fisip UNSRAT.