Peranan Walak Dan Hukum Tua Mengembangkan Pendidikan Di Minahasa

Oleh: Harry Kawilarang

Masyarakat Minahasa mulai mengenal pendidikan sejak pertengahan abad ke-16 sejak masuknya pengaruh Portugis dan Spanyol. Kedua negeri kolonial ini menyebarkan agama Roma-Katolik terutama di wilayah pantai juga melalui pengembangan pendidikan. Penyebaran pendidikan sekolah memperoleh minat besar kalangan penduduk setempat. Dalam laporan perjalanannya ditahun 1675, Pendeta Jacobus Montanus‚ melaporkan: “Pada waktu sekolah didirikan di Manado tahun 1575, terdapat 25 murid dari berbagai latar belakang sosial. Para murid begitu cepat menguasai huruf aksara hingga dapat membaca dan mudah mengikuti berbagai mata-pelajaran dengan Bahasa Melayu‚ sebagai bahasa pengantar.” Proses pendidikan berkembang pesat hingga pada 1695 tanah Minahasa memiliki 6 sekolah dengan 7 tenaga pengajar dan 220 murid, tulis Montanus.

Asal-Muasal Minahasa
Dilihat dari peta ethnografi, masyarakat Minahasa merupakan hasil pembauran antara masyarakat kepulauan dengan masyarakat pendatang yang memiliki ikatan hubungan dengan masyarakat pegunungan di daratan Asia. Hubungan relasi dikaitkan dengan perbendaharaan beberapa dialek bahasa dan berkulit langsat yang merupakan ciri khas keturunan Rumpun Melayu Tua. Rumpun ini berasal dari pegunungan Himalaya yang melakukan proses diaspora di jaman es dan menyebar keberbagai penjuru. Ada yang menuju kebagian Utara hingga kedaratan Cina hingga Mongolia. Bahkan ada yang menyelusuri Alaska hingga benua Amerika -ketika daratan masih
menyatu dan belum dipisah oleh Selat Behring. Yang lainnya menyelusuri sungai-sungai ke wilayah Selatan dan Tenggara-Asia hingga sungai delta Mekong. Perjalanan berlanjut keberbagai gugusan nusantara, terutama di Kalimantan, Nias, Mentawai hingga Sulawesi Utara. Ciri khas mereka tidak membentuk kelompok pemerintahan setempat (Non-State Peoples) dalam tatanan organisasi sosial. Faktor ini menempatkan mereka terkucil dari dunia luar, selain karena hidup dipegunungan, juga sibuk dengan perkebunan mereka. Tatatan organisasi melulu dilakukan menurut garis kekeluargaan dipimpin oleh pemimpin marga sebagai kepala keluarga. Organisasi masyarakat mulai berkembang dengan tumbuhnya pemerintahan desa dihuni beberapa kelompok individual memperbaiki kepentingan kampung hingga terwujud ikatan kohesif homogen.
Republik Desa
Sistem organisasi sosial menuju pemerintahan berkembang dengan dilakukannya lembaga struktural, yakni pemimpin sebagai figur disebut Walak dan Hukum-Tua yang berfungsi sebagai panglima keamanan desa dan sebagai pengelola administrasi pemerintahan. Posisi Walak diperoleh dari hasil pemilihan para kepala keluarga yang disahkan oleh Lembaga Penasehat Desa setempat berfungsi sebagai pengayom sosial-budaya. Lembaga ini umumnya terdiri dari para, para mantan walak, orang tua-tua yang dan orang-orang yang ditokohkan karena prestasi membina keluarga ataupun dalam memajukan kebajikan bagi kepentingan masyarakat desa. Persyaratan menjadi Walak juga ternyata tidak mudah. Selain memiliki kekuatan sosial-ekonomi, memiliki penampilan intelektual, serta bersikap informal dalam sikap terhadap pergaulan hidup sehari-hari. Istilah Walak merupakan pemuka masyarakat yang memperoleh gelar Tonaas yang ditokohkan terhadap seseorang yang berprestasi dilingkungan.
Sedangkan Hukum Tua adalah pimpinan pemerintahan desa yang terpilih oleh masyarakat setempat melalui tata cara demokratis.
Pencalonan seorang Hukum Tua dinilai selain memiliki kekuatan sosial-ekonomi, juga dapat memantapkan konsep program kerja yang dijalankan demi perbaikan kemajuan desa.
Motivasi dari pengembangan kemajuan di dasari pada aturan Mapalus merupakan pandangan hidup yang mengandung nilai-nilai budaya etika terbentuknya ethos kerja atas dasar azas kebersamaan masyarakat Minahasa.
Panutan Mapalus merupakan salah satu aspek dikembangkannya dunia pendidikan di tanah Minahasa yang tidak didasari pada panutan figur seseorang ataupun sekelompok manusia dalam menjalankan berbagai kegiatan. Pengadaan Mapalus merupakan bagian dari hasil kesepakatan para Walak menyatukan Minahasa dalam satu kesatuan yang terdapat melalui persekutuan Watu Pinabetengan (monumen di desa Pinabetengan, Minahasa) dimasa silam. Penyatuan dengan kesepakatan melalui Mapalus terjadi, karena pada dasarnya masyarakat Minahasa terdiri atas sistem “clan” yang masing-masing membangun “Tara-Tara” (rumah panjang). Dari rumah timbul panutan pandangan hidup dan menjadi ciri khas masyarakat Melayu Tua. Karena dari rumah yang mendidik Mapalus yang merupakan dasar terwujudnya sifat solidaritas masyarakat Minahasa dalam menangkal penetrasi dari ancaman penetrasi kekuatan dari luar.
Peranan Mapalus
Keampuhan Mapalus terjadi ketika persada Minahasa menjadi fazal ekonomi dari kesultanan Ternate. Namun kekuasaan Ternate tidak berha-sil menyentuh hinterlands yang merupakan sentra-sentra budaya kekuatan masyarakat Minahasa yang dilindungi oleh keperkasaan para walak menghadapi penetrasi kekuatan luar. Spanyol juga hanya berada di pantai, tetapi tidak berhasil memasuki pedalaman. Itulah salah satu contoh dari panutan Mapalus mempertahankan Minahasa.
Motivasi Mapalus dikembangkan pada sektor pendidikan yang diperkenalkan para misionaris Kristen dari Eropa dan dapat diterima para pemuka masyarakat Minahasa. Karena walak tidak dibenarkan memperoleh gaji selama memegang masa jabatan. Fungsinya sebagai koordinator dan bertanggung jawab sebagai stabilisator keamanan bagi kepentingan masyarakat desa. Karena sudah menjadi karakter bahwa sistim keamanan pemerintahan Non-Kerajaan” selalu dikaitkan terhadap ancaman luar, termasuk tetangganya sendiri yang dapat merusak ketenteraman hidup dan
menetap dipegunungan dan terkucil dari dunia luar.
Namun isolasi mendatangkan keterbelakangan dan disadari sepenuhnya oleh para walak. Walau memiliki status sosial tinggi, tetapi menjadari kekurangannya karena buta aksara dan tidak dapat berkomunikasi dengan dunia luar. Apalagi setelah tata-niaga ekonomi dunia mulai berkembang dan menjalar kepedalaman Minahasa di abad pertengahan. Sejak itupun para walak mulai memprakarsai pendidikan bagi para turunan masyarakat desa. Selain untuk berkomunikasi, juga mengenal keadaan perkembangan dunia yang berkembang dari masa kemasa.
Cetusan Wajib Belajar
Pendidikan di Minahasa berkembang berkat peranan para Walak dan Hukum Tua mendirikan sekolah. Selain pengadaan sarana gereja juga dibangun sekolah-sekolah. Dunia pendidikan diwarnai berkembangnya pemahaman Kristenisasi yang cepat menyebar pada masyarakat Minahasa. Setiap sekolah diwajibkan menyertakan alkitab sebagai bagian yang integral dalam dunia pendidikan. Sebagai hasilnya, penyebaran Protestantisme berkembang pesat di lingkungan masyarakat Minahasa. Wajib belajarpun dikenakkan bagi setiap anak yang berusia antara 6 – 14 tahun tanpa kecuali. Tidak ada alasan orang-tua tidak menyekolahkan anak mereka karena alasan beaya. Sebab semua beaya pendidikan ditanggung oleh walak dan hukum-tua.
Lagi pula pendidikan pada masa itu bukan merupakan sesuatu yang mewah, hingga memungkinkan para orang-tua menyekolahkan anak mereka, hingga dimasa datang Minahasa memiliki buta-aksara paling minim di Indonesia. Para pimpinan desa melakukan inisiatif untuk mengembangkan pendidikan dan meng “impor” tenaga pengajar dari Batavia. Para pengajar terangsang, sebab jaminan hidup sehari-hari diperhatikan langsung oleh Hukum-Tua. Untuk menarik minat, para guru memperoleh tunjangan sosial diatur oleh pemuka masyarakat setempat. Mereka memperoleh satu hingga dua gantang beras dan upah gaji berkisar antara 8 – 10 Gulden setiap bulannya. Sejak itupun posisi dunia pendidikan berkembang pesat di Minahasa. Sekolah-sekolah yang ada di Manado dan Minahasa terbanyak umumnya sekolah rendah hingga kelas tiga dan di asuh oleh NZG (Nederlandsch Zending Genootschap) dari Gereja Protestant.
Jenis sekolah ini terdapat di Manado, Tomohon, Airmadidi, Tondano dan Amurang. Setelah selesai, dilanjutkan (vervolg-school ke kelas empat dan kelas lima. Disekolah tersebut menggunakan bahasa Melayu (kini Indonesia). Bagi mereka yang mengikuti sekolah rendah berbahasa Belanda, HIS (Hollandsch Inlandsche School) menempuh hingga kelas tujuh. Sekolah-sekolah ini dikenal dengan Zuster School dan Frater School yang terdapat di Manado dan Tomohon dan diasuh oleh gereja Roma Katholik.
Di Manado juga terdapat Sekolah Rakyat 7 tahun dengan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar yang diprioritaskan kepada pelajar-pelajar turunan Belanda dan Eropa yang di kelola langsung oleh pemerintah kolonial setempat. Selain itu juga di Manado terdapat sekolah tujuh tahun khusus untuk turunan Cina dengan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar disebut HCS, Hollandsch Chinees School.
Disamping itu juga didirikan sekolah-sekolah swasta, Neutrale Sumual School oleh Sumual, seorang pemuka pendidik dari Airmadidi. Sekolah Rakyat tujuh tahun berbahasa Belanda ini tersebar di Airmadidi, Manado dan Tomohon.
Pada 1846-1849, jumlah murid di Minahasa mencapai limaribu-enam murid. Sedangkan jumlah murid di tanah Jawa berjumlah limabelasribu-limaratus-tigapuluhlima pelajar. Itupun banyak diantara mereka adalah anak-anak para ambtenaar ataupun tentara turunan Minahasa yang berada di tanah Jawa. Di Yogyakarta misalnya terdapat 50 murid turunan Minahasa yang memasuki sekolah Eropa ketika dilakukan sensus pelajar pada 1876. Keranjingan pendidikan membaca, menulis dan ilmu mathematika juga berkembang pesat terutama pada abad ke-19. Walau ajaran alkitab tidak masuk kurikulum, namun agama menjadi mata-pelajaran pada sekolah-sekolah Kristen yang beayanya ditopang sepenuhnya oleh Hukum-Tua dan jemaat gereja setempat pada 1848.
Politik Ethis
Begitu besarnya animo belajar hingga Minahasa sempat kekurangan guru. Tomohon merupakan sentral dunia pendidikan di Minahasa pernah kewalahan karena tenaga pengajar terbatas melayani sekitar 500 murid. Pihak misi Kristen tidak mampu menambah tenaga guru karena jumlah terbatas. Untuk mengatasi, dikembangkan sarana sekolah pendidikan guru oleh pemuka desa agar tidak bergantung pada tenaga-pengajar “impor” yang biasanya disediakan oleh Misi Kristen dari Batavia. Bermula dengan sekolah pendidikan guru di desa Sonder pada 1852, berlanjut di Tanawangko pada 1855, yang kemudian ditambah lagi di Tondano pada 1873. Hasil “Swadaya Tenaga Pengajar” masyarakat setempat dapat diatasi berkat peranan para hukum-tua dibantu Jemaat Gereja ketika pada 1868 mendirikan sekolah pada masing-masing kampung dan menampung hasil pendidikan guru.
Sebagai hasilnya aturanpun diberlakukan untuk membatasi jumlah murid disetiap kelas.
Misalnya, jumlah 100 murid dilayani dua tenaga pengajar. Peningkatan mutu pendidikan dikembangkan dengan didirikannya Sekolah Raja di Tondano pada 6 Desember 1863.
Kendati pemerintahan kolonial Hindia-Belanda menerapkan kebijakan sentralisme dan lebih memprioritaskan pengembangan di Jawa dengan pembangunan berbagai sarana pendidikan di Batavia, Bandung, Bogor, Yogyakarta dan Surabaya, terutama sejak Kerajaan Belanda mulai menerapkan “Ethiesche Politiek,” dengan program desentralisasi bagi pribumi terhadap wilayah koloninya di Hindia-Timur (kini Indonesia) di awal abad ke XX. Di Batavia dibangun pendidikan kedokteran, hukum dan ekonomi. Di Bandung didirikan perguruan Tinggi Teknologi, karena kota ini dibangun sebagai Pusat Pertahanan Militer. Kota yang dimasa kemudian menjadi ibukota provinsi Jawa-Barat sempat memperoleh gelar “Kota Mahasiswa” juga mengalami pembentukan sebagai kota kosmopolitan. Sedangkan pengembangan sarana pendidikan umumnya diprakarsai oleh para pemuka masyarakat bersama berbagai misi gerja Kristen dan Katolik. Pembangunan sarana pendidikan tidak dilakukan secara merata diberbagai kepulauan luar Jawa. Di Minahasa misalnya, dari kebijakan “Ethis” itu, Minahasa hanya memperoleh pembangunan pendidikan tertinggi hingga tingkat MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijz) berbahasa Belanda untuk tiga tahun di Manado, Tomohon dan Tondano.
Di Manado terdapat MULO Frater dan MULO Zuster dikelola Gereja Roma Katholik. Di Tomohon, Christelijke MULO oleh Gereja Protestant dan di Tondano Gouvernement MULO oleh pemerintah. Yang tamat dari MULO dan dapat melanjutkan ke AMS (Algemene Middelbare School) dan HBS (Hogere Burger School), dan bila mampu harus ke Batavia atau Bandung. Karena jenis sekolah tertinggi ini tidak ada di Minahasa.
Selain MULO juga terdapat sekolah-sekolah kejuruan seperti: Ambacht-school (tehnik) di Wasian, Normaal-school di Tomohon dan Tondano dimana di didik guru-guru sekolah dasar, dan sekolah Seminari di Kakaskasen dan Pineleng. Di Tomohon juga terdapat sekolah STOVIL (School Tot Opleiding Voor Inlandsche Leeraar) bagi calon-calon guru.
Peranan Media Cahaya Siang
Pertumbuhan intelektualisme Minahasa juga berkembang pesat dengan penerbitan harian `Cahaya Siang’ di Tanawangko pada 1868 yang diprakarsai misionaris gereja asal Jerman. Harian ini merupakan media cetak jurnalistik modern berbahasa Indonesia pertama turut memperkaya khazanah berwawasan luas ditanah Minahasa. Cahaya Siang turut membantu menjalankan kampanye buta aksara pada penduduk setempat. Selain itu turut meningkatkan pengetahuan mengenai perkembangan dunia yang diperoleh melalui pemberitaan komunikasi laporan gereja-gereja. Peranan intelektualisme juga dipengaruhi dengan lingkungan rumah yang turut membesarkannya.
Pengetahuan ethika berharmonisasi lingkungan keluarga yang dikembangkan Walanda Maramis turut mengilhami pertumbuhan pada generasi melalui peranan orang-tua turut mewarnai pembawaan sikap. Dari rumah pula timbul “demokrasi meja makan” antara orang-tua dan anak hingga terwujud “intellectual exercises” dengan bahan-bahan obrolan yang diperoleh dari hasil pendidikan formal yang didasari pada kekristenan yang ditunjang dari rumah. Ditambah dengan bahan-bahan informasi mengenai perkembangan dunia melalui media-cetak Cahaya Siang. Perkembangan dunia pendidikan guru turut menumbuhkan pendidikan diberbagai pelosok nusantara hingga Minahasa dikenal sebagai gudang guru. Sebagai hasilnya Minahasa sempat memiliki ekspor komoditi guru turut memperkaya khazanah dunia pendidikan nusantara dari Aceh hingga Papua.
Guru-guru asal Minahasa juga dikenal sebagai perintis kemajuan dibidang pendidikan.
Sekalipun Minahasa hanya memiliki pendidikan guru, tetapi sempat menjadi daya tarik, terutama dari Indonesia-Timur. Perguruan tinggi di Tanawangko dan seminari di Pineleng dikenal pelajar dari Maluku, Irian, Timor dan Flores.
Pembawaan Integratif
Dimasa lalu yang menjadi profesi turunan Minahasa antara lain sebagai Pengabar Injil, Guru, Militer dan pegawai administrasi serta pelaut. Sungguhpun mengalami keterbatasan sarana pendidikan formal, namun dasar dari pendidikan kristiani yang diperolehnya dari rumah telah membentuk turunan Minahasa bersifat terbuka.
Sifat ini turut mewarnai perjalanan hidupnya dan berintegrasi serta beradaptasi dengan lingkungan masyarakat diperantauan yang dapat menerima karena keterbukaannya menyebarkan ilmu yang diperolehnya. Kesemua dasar dari perkembangan pendidikan itu diperoleh berkat peranan para Hukum-Tua. Faktor inipun tidak terlepas dari motivasi Mapalus sebagai ethos kerja yang menjiwai para intelektual Minahasa turut menyebarkan ilmu yang diperolehnya pada siapapun. Pembawaan nilai kristiani dari hasil pendidikan rumah dibawanya serta hingga mudah berintegrasi dengan masyarakat dirantauan. Sifat keterbukaan yang dijiwai pada pendekatan integritas dengan menyumbangkan pemikiran dan semua kemampuan yang terbaik menjadi latar-belakang hingga masyarakat turunan Minahasa mudah bergaul dengan lingkungan masyarakat dimana ia berada. Sikap integritas diiringi rasa solidaritas dengan lingkungan yang diperoleh dari didikan rumah dan menjadi pembawaan hidup dalam melaku-kan berbagai kegiatan bagi kepentingan bersama. Sifat Pembawaan itulah yang merupakan kekuatan bagi idealisme turunan Minahasa turut berpartisipasi memperjuangkan tuntutan kebebasan hak-hak azasi bersama masyarakat diperantauan.
Sifat keterbukaan dengan memberi segala pengetahuan yang terbaik yang dimilikinya hingga masyarakat turunan Minahasa turut mewarnai pertum-buhan pemikiran sekularisme kepada masyarakat setempat mengembangkan pemahaman masyarakat pluralistik. Karena dari pembawaan rumah yang didasari pada panutan Mapalus tidak mengenal pembagian kelas sosial masyarakat yang pernah dialami turunan masyarakat lainnya terutama pada masa pemerintahan Kolonial yang melakukan pengkotakan ethnik.Praktek pengkotakan misalnya terjadi di Batavia dengan hadirnya berba-gai lokasi kampung ethnis yang saling terpisah yang juga diterapkan baik dilingkungan masyarakat desa maupun dikota besar. Sedangkan sistem pengkotakan ditanah Minahasa sama sekali tidak berkembang.
Pembawaan masyarakat Minahasa yang menjadikan panutan Mapalus sebagai yang falsafah hidup. Itulah sebabnya hingga turunan masyarakat Non-Kawanua yang berada di tanah Minahasa mudah berbaur karena sikap keterbukaan masyarakat Minahasa. Contohnya saja pembangunan Kampung Jawa untuk masyarakat Jawa di Tondano. Mereka ini turunan Pangeran Diponegoro dan pemuka Perang Jawa (1825-1830) yang “dikucilkan” oleh Belanda. Begitu pula turunan Imam Bonjol dan pemuka Perang Padri (1820 – 1830) di “kucilkan” di daerah Pineleng. Walau berbeda latar-belakang budaya dan agama, tetapi menghidupkan suasana harmoni hidup berdampingan hingga dengan mudah terjalin proses pembauran dengan masyarakat Minahasa yang menerima mereka dengan keterbukaan tanpa harus melakukan pengkotakan.
Pendidikan Protestan di Minahasa tidak terlepas dari usaha membendung penetrasi yang dilakukan Spanyol yang berada di Filipina oleh Belanda. Namun dengan menyerap dan mendalami pengetahuan westernisasi ternyata juga dijadikan sebagai senjata menghadapi kolonialisme Belanda pula. Dilain pihak merupakan keuntungan bagi masyarakat Minahasa memperoleh pengetahuan sebagai bekal kearah pemikiran modernisasi.
Penyebaran ini didasari pada pandangan “memanusiakan manusia” atau dengan istilah Si Tou Ti mou Tumou Tou‚ yang dimashurkan oleh Dr. GSSJ Ratulangie. Pandangan inilah hingga tenaga pengajar asal Minahasa konsisten mendidik masyarakat diberbagai pelosok gugusan nusantara.
Hasil penyebaran pendidikan membekali penduduk gugusan nusantara dijauhi dari keterkucilan dunia luar, dan mengikuti berbagai peristiwa dunia. Dengan demikian memperluas pengetahuan dan wawasan terhadap berbagai kejadian internasional. Untuk itu melakukan kesiapan berantisipasi agar tidak menjadi korban dari ketidak tahuan hingga menjadi mangsa dari panggung politik dunia. Proses kebangkitan nasionalisme awal abad ke-20 terjadi setelah perubahan wajah dunia. Itupun diperoleh setelah mengikuti memantau keadaan dunia internasional yang disaring melalui pandangan analisa sesuai kemampuan intelektual. Itulah salah satu peranan yang dilakukan turunan masyarakat Minahasa mengembangkan pendidikan intelektualisme hingga terbentuk nilai-nilai persatuan solidaritas kebersamaan masyarakat plural Indonesia dari Sabang hingga Merauke.***

Unlike ·  · Subscribe · 25 minutes ago

  • You like this.