Harry Kawilarang 8:03am Sep 8
Hallo tamang-tamang, napa qta pe tulisan di forum seminar Lambertus Nicodemus “Babe” Palar di Aula Rumah Dinas Walikora Tomohn dan Talk Show di Radio Sion, Tomohon pada Selasa 06 September 2011. Semoga bermanfaat. HK.Sekelumit Sejarah Nicodemus Lambertus “Babe” PalarOleh: Harry Kawilarang
Nama Nicodemus Lambertus Palar, atau akrab dikenal dengan “Nico” tak dapat di abaikan dalam sejarah perjuangan diplomasi Indonesia di dunia internasional. Pria Kawanua kelahiran desa Roeroekan di Minahasa pada 5 Juni 1900 (wafat pada 13 Februari 1981 di Jakarta), sejak muda sudah menggemari dunia politik dan memasuki organisasi Jong Minahasa ketika memasuki bangku sekolah MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) di Tondano. Berlanjut ke sekolah AMS (Algemeene Middelbare School) di Yogyakarta pada waktuny ayahnya, Gerrit Palar seorang guru bersama keluarga bertugas disana. Ketika menjadi mahasiswa Technische Hoogeschool (kini ITB) Bandung, ia berkenalan dengan Soekarno dan kaum nasionalis muda lainnya, dan turut dalam berbagai pertemuan membahas dan berdiskusi tentang politik dan nasionalisme. Karena keadaan fisik yang lemah hingga Nico tidak melanjutkan studi di Bandung dan harus dirawat selama setahun. Setelah itu ia sempat bekerja di maskapi pelayaran KPM (Koninklijke Paketvaart Maatschappij). Tetapi tidak lama, untuk kemudian pada 1924 ia memasuki perguruan tinggi ilmu hukum di Batavia. Dari tempat ini ia giat mendalami pandangan Sosial-Demokrat sejak berkenalan dengan J E Stokvis, anggota Volksraad dan juga ketua Partai ISDP (Indische Sociaal-Democratische Partij).Kegiatan berpolitik Palar sempat terhenti ketika terjadi aksi pemberontakan komunis pada 1926 dan para pelakunya dihukum dan dibuang di Boven-Digoel. Atas desakan orang-tuanya, Palar berlayar ke negeri Belanda pada 1928.
Ternyata di Belanda ia mendalami politik dan pada 1930 ia menjadi anggota partai SDAP (Sociaal-Democratische Partij). Hal ini dimungkinkan karena ia mendapat rekomendasi dari Stokvis dan J van Gelderen, dan partai ini juga mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia di negeri Belanda.
Iapun dekat dengan Hatta dan Sjahrir yang juga akrab dengan kelompok sosialis-demokrat di Belanda, yang sering didampingi dengan Daan van der Zee, seorang aktivis Belanda yang sangat bersimpati dengan kemerdekaan Indonesia.
Karena cukup menonjol hingga pada awal 1933 Palar anggota tetap pada partij SDAP, Tak lama kemudian, di bulan Oktober 1933 ia diangkat menjadi sekretaris Komisi Negeri-negeri Seberang sebagai wakil dari SDAP dan NVV. Tugasnya untuk menjalin hubungan secara teratur antara SDAP dengan semua organisasi barisan nasionalis dan serikat-serikat buruh di Indonesia untuk kepentingan partai.
Peranan Nico Palar sangat besar untuk mengembangkan unsur-unsur sosialis-demokrat yang berhaluan moderat Indonesia. Itu sebabnya hingga ia akrab dengan Hatta dan Sjahrir yang berhaluan sosialis-demokrat.

Dengan posisi ini ditambah dengan pengetahuan jurnalistik, pemikiran-pemikirannya di tulis dan disalurkan pada “Het Volk,” media partai, yang juga dikirim dan diterbitkan oleh berbagai media nasionalis di Indonesia. Dengan ketekunannya, ia meraih kepercayaan dari partai SDAP untuk menyusun rencana mendirikan kantor berita khusus mengenai Indonesia. Melalui idenya hingga berdiri Biro Pers Indonesia, Persindo (Persbureau Indonesia), dan iapun ditunjuk sebagai redaktur. Tugasnya adalah memberitakan semua kegiatan organisasi-organisasi serikat buruh di Indonesia yang diterbitkan falam 11 jilid pada media De Vakbeweging (Juli 1933-Agustus 1934). Ketika bekerja sebagai wartawan, ia berkenalan dengan Johanna Petronella “Joke” Volmers, yang waktu itu bekerja sebagai wartawati pada kantor berita Inggris, Reuter di Amsterdam. Perkenalan ini berlanjut dengan perkawinan pada 1935.

Palar Membela Soekarno di Parlemen Belanda
Palar kemudian membantu van Gelderen menyusun program kerja partai SDAP untuk buruh di Indonesia. Padahal Palar sudah dikenal kalangan politisi oleh prestasi kerjanya, dan namanya berada di urutan atas calon bakal jadi pada pemilihan Majelis Tinggi (Eerste Kamar) pada 1937. Sekalipun begitu ia tetap tidak terpilih. Palar tetap berkarya dan ia giat di bidang jurnalistik dan tulisannya secara teratur muncul di media “Het Volk.”

Pada 1938, pihak Komisi partai memberi kepercayaan kepada Palar untuk melakukan perjalanan jurnalistik ke negeri leluhur, guna menjalin hubungan pemuka pemuka nasionalis dan organisasi-organisasi pribumi lainnya. Pada akhir 1938, Palar bersama isterinya, Joke Volmers, berangkat ke Indonesia dan menjelajahi berbagai kepulauan nusantara selama setengah tahun. Sekembalinya dari Indonesia, dengan enthusias dan dengan semangat tinggi ia menulis berbagai tulisan, terutama mengenai pergerakan-pergerakan nasionalisme di Indonesia dari hasil pertemuannya dengan pemuka-pemuka nasionalis di berbagai kota yang kesemuanya menuntut kemerdekaan. Iapun mengingatkan mengenai pengaruh Jepang kian membesar yag selama ini diremehkan oleh pemerintah kolonial Hindia-Belanda yang citranya menurun tajam.

Kegiatan Palar tak berlanjut pada masa negeri Belanda diduduki Jerman. Semua partai politik diberangus dan kegiatan Pesindo dibekukan. Masa sulit dialami Palar, hingga pernah menjadi kepala buruh pelabuhan di Amsteram. Ia nyambi dengan memberi les bahasa Indonesia atau menjadi gitaris pada orkes kroncong pada berbagai pertunjukan di Eropa. Setelah perang berakhir, ia kembali giat pada partai SDAP dan bekerja pada kantor sekretaria partai. Ia juga menjabat sebagai redaktur pada harian Vrije Volk.

Palar kembali memperoleh jabatan sebagai anggota Komisi pada partai SDAP yang pada 15 Juni 1945 dengan resmi menjadi Komisi Indonesia, yang merupakan lembaga independen yang kemudian berganti nama Commissie Verhouding Nederland-Indonesië (Komisi hubungan Indonesia-Belanda). Kemudian di bulan Oktober 1945 partai SDAP memutuskan mengirimkan misi khusus ke London untuk melakukan pendekatan dengan Partai Buruh Inggris, yang sejak bulan Juli pemerintah Inggris pimpinan Perdana Menteri Clement R Attlee dari Partai Buruh mendapat tugas dari Sekutu untuk melakukan rekapitulasi terhadap pasukan Jepang di Indonesia. Dari para anggota partai SDAP terdapat Nico Palar bersama N van der Goes van Natters, L Vorrink dan Stokvis. Pada pertemuan itu di hadapan anggota-anggota Partai Buruh Inggris itu, Palar menjelaskan mengenai proses anti-kolonialisme yang berkembang di Indonesia. Penjelasan Palar dibantu oleh Stokvis menarik perhatian hadirin dari partai berhaluan sosialis-demokrat hingga berkesimpulan agar pemerintah Belanda melakukan pendekatan dengan Soekarno. Sejak saat itupun nama Palar dan Stokvis di kenal sebagai nara sumber oleh kalangan politisi Inggris.

Pada 20 November 1945, Palar menjadi anggota Parlemen Belanda (Tweede Kamer), dan termasuk salah satu diantara dua anggota wakil-wakil Perhimpoenan Indonesia yang ketika itu memiliki 40 anggota warga Indonesia di negeri Belanda yang menjadi anggota Staten-Generaal sementara hingg pemilihan umum bulan Mei 1946. Pada bulan Mei 1946, sebagai wakil partai SDAP (kemudian menjadi Partij van den Arbeid, PvdA) di Tweede Kamer, Palar masuk pada Komisi Urusan Indonesia. Ketika Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, Palar sangat bersimpati dan mendesak pemerintah Belanda melakukan pendekatan dengan kaum nasionalis Indonesia. Palar menyebut Soekarno sebagai “kooperator,” tetapi ia ditentang oleh rekan-rekannya di kalangan partai yang menuduh Soelarno sebagai kolabtorator yang tak dapat dipercaya.
Sekalipun mengakui kesalahan Soekarno karena mau bekerja-sama dengan militer Jepang, “Tetapi hal itu bisa dimengerti. Ia tidak mau mengkhianati bangsanya, karena Indonesia ditinggalkan begitu saja oleh pemerintah (kolonial).” Palar membela: “Jangan melihat karena Soekarno hingga terjadi pergerakan di Indonesia. Figur Soekarno harus dilihat sebagai bagian dari perjalanan sejarah. Ia adalah seorang sosialis-demokrat dan ia selama bertahun-tahun lamanya di tahan pemerintah Belanda.” (dikutip oleh Van Tuyl).
Ketika Partai PvdA dibentuk Februari 1946 mengganti SDAP, Palar gigih memperjuangkan kemerdekaan Indonesia memperoleh pengakuan partai melalui aksi protes yang berhasil. Untuk itu ia menuntut pada partai dilakukannya pendekatan dengan Indonesia.

Palar sadar bahwa harapan untuk berhasil memperoleh dukungan sangat tipis. Sekalipun ia sering ditekan oleh kalangan anggota partai PvdA, karena kegigihannya sebagai nasionalis Indonesia, tetapi ia menangkis dengan pedoman sosialis-demokrat yang menghapus penjajahan, Palar juga sadar, karena Indonesia sebagai negara baru tidak di kenal secara luas di dunia internasional hingga mudah ditekan oleh Belanda. Sungguhpun begitu, Palar bersama Stokvis memperjuangkan kemerdekaan Indonesia melalui partai PvdA di negeri Belanda. Ia dan Stokvis di Parlemen paling gigih menentang pengiriman pasukan Belanda ke Indonesia. Ia sempat kecewa dengan partainya dianggap tidak konsekwen untuk menghentikan penjajahan.

Beberapa minggu sebelum penandatanganan Persetujuan Linggajati dinilainya sebagai awal perdamaian, yang memungkinkan baginya berkunjung ke Indonesia.
Atas izin dari partai untuk melakukan studi perbandingan, Palar berkunjung ke Indonesia selama tiga bulan dimulai akhir Maret 1947. Selama satu minggu ia menjadi tamu Presiden Soekarno, sahabatnya di Bandung, dan juga menemui Hatta, Sjahrir dan pemuka-pemuka Republik lainnya. Ketika di Yogyakarta, ia sempat ditawari jabatan menteri. Sementara melakukan perjalanan di berbagai pulau, dinas rahasia Hindia-Belanda menyebarkan issue Nico Palar adalah agen komunis dikirim oleh dinas rahasia Rusia ke Indonesia atas instruksi Moskow kepada kedutaan Uni-Soviet di Den Haag agar Palar mendekati Sutan Sjahrir yang berhaluan sosialis-demokrat agar menjalin hubungan dengan Moskow. Issue ini tidak berdasar dan tidak ditanggapi PvdA dan bahkan pula oleh publik Belanda

Palar menarik diri dari Partai dan Bergabung dengan Republik
Pada 10-11 Juni 1947, terjadi perdebatan seru di Tweede Kamer untuk mengambil sikap terhadap Indonesia. Pada perdebatan 11 Juli itu mengenai keputusan tentang ultimatum Belanda melakukan “aksi polisi” terhadap Indonesia ditentang keras oleh Palar. Dalam pandangannya, Palar mengatakan sekalipun Persetujuan Linggajati gagal bukan berarti pemerintah Belanda harus melakukan aksi tindakan militer. Palar kemudian menyarankan agar dibentuk badan arbitrage internasional guna mengatasi keadaan. Saat dilakukannya persiapan aksi militer Belanda terhadap Indonesia, terjadi pertemuan di Dewan partai PvdA pada 19 Juli 1947. Pertemuan yang di prakarsai oleh Johan de Kadt, terjadi voting yang mulanya memenangkan Indonesia. Tetapi usulan Palar membentuk komisi arbitrage internasional digusur oleh Menteri Drees dan pimpinan partai, Vorrink. Yang diprioritaskan waktu itu adalah mengatasi krisis kabinet yang ditimbulkan PvdA, dan perbedaan pandangan di kalangan anggota partai terhadap Indonesia. Pertemuan itu muncul forum memprioritaskan integrasi nasional dan masalah Indonesia adalah masalah dalam negeri yang disetujui oleh Vorrink melakukan aksi militer. Putusan ini menjadi awal dari Palar tidak menyenangi PvdA.

Pada 21 Juli 1948, sehari setelah aksi militer oleh Belanda, Palar mengambil keputusan final, mundur dari partai, dan meletakkan jabatan sebagai anggota Tweede Kamer. Iapun mengirim surat pengunduran dirinya kepada ketua partai untuk mencoret namanya dari partai sebagai protes aksi militer Belanda terhadap Indonesia. Setelah dilakukan intervensi oleh Dewan Keamanan PBB yang mengakhiri “Aksi Polisi” pada 5 Agustus 1947, Palar dalam tulisannya di media “Criterium,” edisi 8 Agustus mengecam partai-partai politik, termasuk bekas partainya, PvdA. Ia katakan: “Ternyata Partij van den Arbeid telah bekerja-sama dengan Katholieke Volkspartij melakukan konspirasi politik.”
Atas tawaran dari Sutan Sjahrir, Palar kemudian bergabung dengan delegasi Indonesia mengikuti sidang di Dewan Keamanan PBB di Lake Success. Bagi Palar hal ini merupakan karier baru di dunia diplomasi. Walau berbadan kecil, tetapi pandangan mata penuh keramahan hingga ia cepat dikenal oleh orang-orang Amerika sebagai lambang “underdog” tetapi tampil penuh percaya diri. Ketika diangkat menjadi pimpinan delegasi, Palar “membabat” dengan argumentasi tajam menghadapi Eelco van Kleffens, mantan luar negeri yang kemudian menjadi pimpinan delegasi Belanda di PBB.

Begitu menariknya penampilan Palar, hingga ia menjadi akrab dengan Menteri Luar Negeri AS, George C Marshall, yang dikenal sebagai Jendral AD berbintang lima, pahlawan Perang Dunia II. Palar sering di undang oleh Marshall untuk memperoleh berbagai bahan mengenai latar belakang konflik Indonesia-Belanda.
Kedekatan Palar dengan Marshall tidak disenangi oleh Belanda, dan beberapa media Belanda menggunjikan Palar sebagai pengkhianat bangsa (Belanda). Pada 1948 secara resmi ia diangkat sebagai pimpinan delegasi Indonesia di PBB. Saat eksistesi Indonesia amat terancam Agresi Belanda Kedua, 19 Desember 1948, Palar adalah salah seorang di antara tiga putra Indonesia (lainnya adalah Dr Soedarsono dan Mr Maramis) yang dikuasakan Wakil Presiden Moh Hatta dan Menteri Luar Negeri H Agus Salim, mendirikan Pemerintah Indonesia dalam pelarian (Government in Exile) jika usaha Mr Sjafruddin Prawiranegara membentuk Pemerintahan Darurat RI (PDRI) di Bukittinggi atau sekitarnya, tidak berhasil.

Selama 5 tahun ia menjadi diplomat ulung dan sangat berperan menghadapi Belanda dalam perdebatan di berbagai forum internasional. Di masa datang Palar menjadi diplomat kelas atas untuk Indonesia. Ia menjadi Dutabesar RI di India (1953-1956), Dutabesar RI di Jerman-Barat dan Uni-Soviet (1957), dan Canada (1957-1962). Pada 1962 ia kembali menjadi Dutabesar di PBB hingga 1965 karena waktu itu Soekarno memutuskan RI keluar dari PBB pada masa konfrontasi Indonesia-Malaysia (1963-1965). Pada awal era Soeharto pada 1967, Palar di instruksikan membuka kembali perwakilan RI di PBB.
Kepemimpinan Soedarpo sebagai pimpinan delegasi Indonesia sangat dihargai Soedarpo Sastrosatomo dan juga di hormati Soemitro Djojohadikoesoemo. Kendati menduduki posisi sebagai wakil partai PvdA di Parlemen Belanda (Tweede Kamer), yang berhaluan Sosialis-Demokrat dan sangat membela Indonesia sebagai bangsa dan Soekarno sebagai Presiden Republik. Ia langsung meletakkan jabatan begitu Belanda melakukan Aksi Militer Pertama, dan langsung bergabung dengan wakil-wakil Indonesia di New Delhi dalam memperjuangkan kemerdekaan RI melalui dunia diplomasi.

Ia kemudian memimpin delegasi Indonesia dalam perdebatan dalam sengketa Indonesia-Belanda di Sidang Dewan Keamanan PBB. Soedarpo dalam bukunya, Against The Currents: A Biograpghy of Soedarpo Sastrosatomo (2003) teringat ketika Palar sedang duduk di ruang tunggu di Gedung PBB, New York. Pada waktu bersamaan datang pula delegasi Belanda yang juga memasuki ruang itu.

Rombongan Belanda di pimpin oleh Mr van Heuven Goedhart, dari PvdA, yang juga akrab dengan Palar, yang datang bersama dengan Abdulkadir Widjojoatmodjo, anggota NICA dengan jabatan Kolonel (KNIL), dan pernah pada masa sebelum Perang Dunia II menjabat Bupati Pekalongan, Jawa Tengah, dan terakhir Konsul Belanda di Jeddah, Arab Saudi. Jabatan terakhir Abdulkadir sebagai staf ahli dari Letnan Gubernur-Jendral H J van Mook.

Waktu itu Van Heuven ingin memperkenalkan Palar dengan Abdoelkadir, tetapi langsung di tampik oleh Palar dengan ucapan: Ik wens U niet te kennen als U de Republiek vergelijkt met een voetbal club of met slechts een microfoon (Saya tidak ingin berkenalan dengan sesorang yang mau menyamakan Republik ini seperti klub sepakbola ataupun melalui pengeras suara).”
Peristiwa ini disaksikan langsung oleh Soedarpo yang memuji Palar sebagai figur yang tegas dan sangat konsekwen dan sikap yang diperlihatkan tidak menyenangi Abdoelkadir.

Soedarpo sangat terkesan pada Palar dengan menyatakan: “Saya sangat memuji kepemimpinan Palar tidak hanya karena sikap dan pembawaan kepemimpinannya, tetapi juga sebagai teman yang dapat menaungi. Bahkan Palar bersedia menjadi “baby sitter” pada puteri kami, Shanti hingga saya dan Minarsih bisa keluar.”
Bahkan wakil-wakil Belanda di Dewan Keamanan PBB juga sangat menghormatinya. Kesan ini di lukiskan oleh J G de Beus, pada bukunya, Morgen bij het aanbreken van de dag (Esok Hari, setelah hari ini,)
(Cuplikan dari buku Mengindonesiakan Indonesia: Partisipasi Orang Minahasa Memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia, 19