Statue_at_University_of_Zurich

Cuplikan dari buku

Mengindonesiakan Indonesia”

oleh

Harry Kawilarang

Harry Kawilarang posted in SUARA RAKYAT MINAHASA. (1 Juli 2011)

Perhimpunan Hindia masa kepemimpinan Sam Ratu Langie

Jabatan Noto Soeroto sebagai Ketua Perhimpunan Hindia berakhir di bulan November 1914.  Laporan mengenai masa jabatan terakhirnya (1913-1914) di landa berbagai kesemrawutan hingga mempengaruhi cabang-cabangnya yang ambur adul. Karena sejumlah anggota mundur tinggal 34 orang, dengan 77 donatur.

Untuk menggantikan Noto Soeroto, terpilih Gerungan S “Sam” S J Ratu Langie. Hal ini cukup mengejutkan, terutama bagi Ratu Langie sendiri. Sebab, sebelumnya selama setahun ia tidak aktif pada organisasi ini. Tetapi Ratu Langie di kenal sangat vokal dan kritis terhadap pemerintah kolonial hingga ia di cap “Radikal.” Sebenarnya dalam pengumpulan suara ia tak mendapat angka mutlak, tetapi ketika calon-calon tandingan menarik diri, muncul Ratu Langie yang ditetapkan sebagai ketua. GSSJ Ratu Langie lahir pada 5 November 1890 di Tondano, Sulawesi Utara.

Setelah menyelesaikan pendidikan tehnik di Batavia, ia melanjutkan pendidikan dengan beaya dari harta warisannya yang kesemuanya di jual untuk berangkat ke Negeri Belanda. Ia ambil ijasah guru dan ijasah untuk mengajar di sekolah menengah bidang ilmu pasti, dan mengikuti kuliah ilmu pasti dan ilmu alam di Universitas Amsterdam. Pembawaan sikap yang tetap menuntut hak kebebasan berpolitik bagi pribumi dan anti-kolonialisme Belanda ternyata menyulitkan dirinya untuk melanjutkan pendidikan hingga tak boleh mengambil ujian akademi. Pendidikan universitas praktis tertutup bagi Ratu Langie di Negeri Belanda. Iapun ke luar dari Belanda dan melanjutkan pendidikan di Swis. Pada akhir 1917 ia memulai studi di Universitas Zurich. Setahun kemudian ia berhasil meraih gelar doktor dalam ilmu pasti dan ilmu alam, dan mempertahankan disertasinya berjudul “Kurven-systeme in voll-standigen Figuren.” Kemudian ia kembali ke Negeri Belanda.

Nama Ratu Langie cepat tampil sebagai tokoh di kalangan pelajar dan mahasiswa Indonesia di Negeri Belanda, karena sangat produktif dalam tulisan-tulisan politik. Misalnya pada akhir 1913 terbit brosurnya berjudul “Serikat Islam” dalam seri “Onze kolonien.” Ia menulis tentang pembentukan Serikat Islam yang waktu itu tumbuh pesat sangat positif, dan menggunakan kesempatan itu untuk memaparkan gagasan-gagasannya yang tegas tentang gerakan emansipasi di tanah-airnya.

Ia mengutuk sikap kaum bangsawan pribumi, pemerintah Belanda dan pers Eropa, tidak mengerti bahwa gerakan emansipasi merupakan ekspresi perasaan rakyat yang murni. Menurutnya, diskriminasi yang menyakitkan ikut menyebabkan timbulnya kesenjangan antara rakyat dan pemerintah. Ratu Langie memuji Boedi Oetomo sebelum organisasi ini jatuh ke tangan kaum bangsawan Jawa. Ia juga memuji Indische Partij. Tjipto dan Soewardi adalah “orang-orang yang berbudi dan memiliki bakat kritis yang besar, terpaksa […] memberontak terhadap kekeliruan dan sikap keliru yang merajalela di tanah-air mereka.”

Menurut Ratu Langie: “Bukan waktunya sekarang ini mempertanyakan apakah Hindia sudah siap memerintah diri sendiri. Yang tepat adalah pertanyaan, apakah Hindia berhak umtuk memerintah sendiri. Jawabannya tidak bisa lain daripada “ya.” Pada penutup artikel ia menulis: “Sejarah tak akan bisa memberi contoh satupun bagi bangsa yang untuk selamanya di jajah. Karena itu semoga perpisahan yang tak terelakkan ini menjadi perpisahan yang bersahabat, supaya sesudah itu berlangsung interaksi unsur-unsur budaya yang menguntungkan antara Hindia dan Negeri Belanda, yang memang sudah ber abad-abad di satukan oleh sejarah.”

Ratu Langie menulis secara teratur dalam majalah De Indier, terutama dalam edisi-edisi yang terakhir. Ambisi sastranya diungkapkannya dalam sebuah alegori, dimana ia mengecam darah yang tercurah atas nama agama.

Dalam pidato perkenalannya sebagai Ketua Perhimpunan Hindia, Ratu Langie dengan jelas menerangkan garis kebijakannya. Ia berbicara tentang perbedaan pendapat yang tahun sebelumnya muncul dalam organisasi ini yang dapat mengakibatkan perpecahan. Menurutnya, pilihan politik yang seringkali hanya berdasar pada semangat muda harus digantikan dengan kepentingan persatuan kelompok kecil mahasiswa Indonesia di Negeri Belanda. Demi tujuan agung yang satu, yaitu membangun Hindia, maka barisan harus di rapatkan.

Memilih berada di luar pusaran politik samasekali tidak berarti bahwa Perhimpunan Hindia kembali pada statusnya sebagai perhimpunan untuk bersenang-senang. “Perubahan besar yang terjadi dalam kehidupan rakyat Indonesia harus di ikuti dengan penuh perhatian. Dengan demikian Perhimpunan Hindia memperoleh ciri klub studi,” tegas Sam Ratu Langie.

Dengan pernyataan azas itu, Ratu Langie membuka pintu lebar-lebar bagi semua mahasiswa Indonesia untuk memasuki perhimpunan ini dan sekaligus memberi kebebasan bagi semua anggota untuk mengemukakan gagasan-gagasan baru. Sistem keterbukaan yang diterapkan oleh Ratu Langie ternyata mendapat sambutan para anggota, bahkan juga dari kalangan donatur.

Soemitro sebelum kembali ke tanah air memberi ceramah tentang perkembangan industri Belanda. Pada bulan Mei 1915 Ratu Langie berbicara mengenai “Cita-cita Minahasa.” Seperti dalam berbagai ceramah-ceramah lainnya, ia mengusulkan untuk memperbaiki sistem pengajaran yang selama ini tidak mencapai standard yang tinggi di daerah. Juga tentang pengikutsertaan orang Minahasa yang baik sekolahnya dalam “mengadabkan” bagian Sulawesi yang lain, agar dengan demikian tenaga-tenaga terdidik tidak lari ke luar daerah.

Sejak kedatangannya di Negeri Belanda, Ratu Langie selalu memperlihatkan sikap nasionalisme ke-Indonesia-annya dengan penuh percaya diri dan tetap konsisten hingga di cap oleh kaum pro-kolonialisme Belanda yang menyebutnya sebagai “radikal.”

Ratu Langie mengenai menuju proses Nasionalisme kebersamaan

Pecahnya Perang Dunia I dan serbuan Jerman terhadap Belgia yang netral membuat posisi netral Negeri Belanda tidak menentu. Hal ini menjadi perhatian serius bagi Ratu Langie. Iapun berkomentar: “Bagaimanakah sikap kita? Tidak sudah tibakah saat kita untuk membiarkan Negeri Belanda sebagaimana adanya, dan mengurus diri sendiri? […] Tapi demi Tuhan, marilah kita tetap berkepala dingin. Di saat-saat yang kritis ini janganlah kita gusar! Kegusaran itu membutakan.

Marilah kita lupakan sakit hati kita kepada yang lain, dan marilah kita simpan apa yang baik saja dari pihak yang lain. Jangan sampai di kemudian hari orang mengatakan, bahwa bangsa Hindia telah mengail di air keruh. Milikilah rasa bangga, dan berjuanglah secara terbuka!

Namun karena alasan-alasan praktis, kita mesti tenang dan menanti. Tak sedetikpun saya ragu, bahwa dalam waktu dekat kita akan dapat melontarkan kuk penjajah yang membelenggu kita. Prajurit-prajurit Jawa dan Ambon yang menempatkan ¾ lebih dari seluruh kekuatan di Hindia akan menyeberang seluruhnya ke pihak kaum pemberontak (pejuang kemerdekaan), dan terdapat cukup alasan untuk mempercayai itu. Tapi sesudah itu? Dalam waktu singkat akan datang musuh lain di depan pelabuhan (Tanjung) Priok (Jepang). Dan musuh itu kini belum dapat kita lawan.”

Ratu Langie menghimbau kepada orang-orang Hindia agar tetap mendukung Negeri Belanda, demi kehormatan diri dan kepentingan diri, yang tentu dapat di pahami dengan baik. Ia menulis: Saya masih merasa, bahwa di jalur-jalur baru yang harus kita tempuh, kita akan buta kalau kita memisahkan diri dari Negeri Belanda. Hari kemerdekaan Hindia masih belum tiba. Bahkan fajar pagi masih belum menyingsing. Di sekitar kita masih gelap gulita. Dengan bekerja-sama melawan musuh bersama berangkali dapat tumbuh rasa simpati, dan itu kiranya akan dapat mempermudah penyelesaian masalah Hindia. Tapi walau bagaimanapun, pemisahan akan terjadi,” itulah yang menjadi pemikiran Ratu Langie yang di ekspresikan dalam artikel “Dengan Kepala Dingin” pada brosur De Indier.

Selain itu, Ratu Langie juga menulis cerita bersambung tentang Wanita Minahasa yang di susunnya dari bacaan yang sudah ada sebelumnya. Pada Mei 1915 Ratu Langie berbicara mengenai “cita-cita Minahasa” dan mengajukan usul-usul tentang pengajaran yang dapat mencapai standar yang tinggi di daerah itu, dan keikutsertaan orang Minahasa yang baik sekolahnya dalam “mengadabkan” bagian Sulawesi yang lain, agar dengan demikian dapat di lawan larinya tenaga terdidik ke luar daerah. Ratu Langie Merintis Pan Asia di kalangan Pelajar dan Mahasiswa Asia di Eropa Kegiatan gerakan politik nasionalisme tumbuh dikalangan pelajar dan mahasiswa Indonesia yang tengah belajar di negeri Belanda. Mereka mengumandangkan “Indonesia, vrij nu” (Indonesia, merdeka sekarang).

Kehadiran PNI mendapat sambutan hangat.

Muhammad Hatta dan kawan-kawannya mengharapkan partai ini akan menjadi cakrawala baru dalam kegiatan pergerakan politik nasional yang dapat mencakup seluruh kepulauan. Karena pengalaman masa lalu sering mengalami kegagalan. Gerakan politik nasional kemerdekaan Indonesia pun di promosikan ke tingkat internasional, terutama di forum Liga Menentang Imperialisme untuk Kemerdekaan Nasional Rakyat tertindas, yang berlangsung di di Brussel antara tanggal 10 sampai 15 Februari 1927. Pertemuan itu dihadiri juga oleh tokoh-tokoh muda Asia yang di kemudian hari menjadi pemimpin-pemimpin bangsanya di Asia. Perhimpunan Indonesia pun turut meluaskan “Solidaritas Asia” di benua Eropa dengan analog bahwa imperialisme Barat harus disudahi untuk kepentingan kemanusiaan.

Sebelumnya, Sam Ratu Langie ketika masih belajar di Zurich, Swiss, juga mendirikan organisasi mahassiswa Asia, Societe d’etudiants Asiattiques (Masyarakat Mahasiswa Asia) pada bulan Juni 1918 di kota Zurich. Ratu Langie bahkan menjadi ketuanya yang pertama. Di Zurich terdapat terdapat banyak mahasiswa Asia dari berbagai negeri. Menurut Ratu Langie: “Latar belakang Asia yang sama-sama mereka miliki, demikian juga kesadaran nasionalisme yang ada pada mereka. Merekapun berhimpun menjadi satu.”

Lebih lanjut Ratu Langie melukiskan: “Mereka itu bukan menjauhkan diri dari Barat, mereka justeru mau mengambil alih keberhasilan-keberhasilan Barat, namun bersamaan dengan itu mereka ingin tetap menjaga warisan budayanya sendiri. Dari ‘perkawinan antara peradaban Barat dan Timur’ itulah harus lahir ‘Asiatisme yang Baru.’ Pada waktu di dirikan, organisasi ini beranggotakan mahasiswa dari Cina, Jepang, Korea, India, Siam, Filipina dan Indonesia. Perhimpunan ini juga berencana untuk menerbitkan majalah dan menyelenggarakan kongres. Perhimpunan Hindia dan organisasi Cina, Chung Hwa Hui di Negeri Belanda menjadi anggota organisasi itu. Sementara itu kedua organisasi itu akan membentuk cabang untuk Negeri Belanda.

Dalam ceramah-ceramah dan artikel-artikelnya, Ratu Langie dengan bersemangat mempropagandakan organisasi Pan-Asia itu. Iapun memberikan analisa atas kemajuan di India-Inggris, Cina dan Jepang. Di situ kembali ia bersandar pada nasionalisme Rabindranath Tagore yang moderat dan tawalal, seperti di uraikannya dalam sebuah bukunya yang waktu itu baru saja terbit. Selain itu juga didengungkan bahwa setiap bangsa yang terjajah berkewajiban untuk memerdekakan dirinya dari penjajahan.

Solidaritas Asia yang berkembang dipusatkan di Paris. Ibukota Prancis ketika itu menjadi pusat kegiatan dunia internasional. Dan Perhimpunan Indonesia turut menunjang berdirinya Association pour l’etude de la Civilasation orientale’ atau Perkumpulan Kesejahteraan Bangsa Timur. Kongres Pengajaran pertama: Menggalang Kerja-sama antara penjajah dengan yang di jajah Perang dunia pertama yang berkobar di Eropa telah mengubah perkembangan politik dan mempengaruhi hubungan Belanda-Indonesia yang tidak menguntungkan cita-cita kaum ethisi.

Walau begitu di Negeri Belanda cita-cita itu masih di junjung tinggi oleh kelompok orang Belanda yang memiliki pengaruh, terutama yang pernah berada di Indonesia. Hal ini terlihat dengan diperkuatnya organisasi Perhimpunan Hindia untuk mewujudkan cita-cita itu. Untuk itu pihak kaum Ethisi di bawah pemukanya, Abendanon dengan melibatkan PH menyelenggarakan Kongres Pengajaran Kolonial pertama pada 28-30 Agustus 1916 di Den Haag di bawah pimpinannya.

Kongres ini di lindungi oleh Pangeran Hendrik sebagai pelindung, dan Menteri Daerah Jajahan menjadi ketua kehormatan. Pada kongres tersebut, Sam Ratu Langie menjadi utusan Perhimpunan Hindia, sedangkan Soewardi dan Baginda Dahlan Abdoellah sebagai pemrasaran. Tiga serangkai, Soewardi, Noto Soeroto dan Soorjopoetro, selain termasuk sebagai anggota penyelenggara, juga menyajikan pementasan nyanyi dan deklamasi pada penutupan kongres. Pihak Belanda melihat, sekalipun Soewardi berstatus ‘orang buangan,’ karena di anggap berbahaya bagi ketenteraman dan ketertiban di negerinya, tetapi ia diterima dan di sambut masyarakat Belanda di Negeri Belanda. Sasaran dan tujuan dari Kongres yang di topang oleh kaum Ethisi, untuk menggalang kerja-sama antara penjajah dengan yang dijajah.

Sejumlah masalah yang actual waktu itu masuk dalam acara kongres. Yang dipilih adalah 7 bahan diskusi, dan di bahas sekaligus oleh sejumlah pembicara. Selama kongres berlangsung, Soewardi paling menonjol aktif berbicara. Pada setiap masalah ia selalu muncul dengan mengemukakan pendapatnya. Salah satu yang menarik adalah penggunaan bahasa pengantar. Soewardi memberi prasaran panjang tentang kedudukan bahasa-bahasa pribumi dan bahasa Belanda dalam pengajaran. Menurut Soewardi, untuk dapat memberikan pengajaran yang sesuai dengan keperluan orang pribumi dan untuk membangkitkan kesadaran kesetiakawanan, harus digunakan bahasa Melayu sebagai bahasa pergaulan dan dengan sendirinya juga bahasa pengajaran. Sedangkan penggunaan bahasa Belanda untuk sementara mutlak harus digunakan dalam pengajaran lanjutan. “Inti kaum cendekiawan yang kini di didik disini nantinya harus menyebarkan ilmunya kepada khalayak ramai yang lebih luas dengan menggunakan bahasa ibunya.” Soewardi menekankan bahwa: “tingkat pengajaran rendah bahasa pribumi tidak boleh di geser oleh bahasa Belanda, dan tingkat pengajaran lanjutan pun harus diberikan banyak waktu untuk pengajaran bahasa sendiri. Untuk pengajaran menengah dan tinggi harus terjadi ‘unifikasi,’ dan hak-hak sama harus berlaku bagi semua golongan masyarakat. Praktek pemberian hak istimewa kepada anak-anak Eropa harus di hentikan.” Pandangan yang dikemukakan Soewardi disambut baik oleh forum peserta dan sama sekali tidak ada komentar keberatan.

Namun terdapat satu ‘masalah paling pekak yang dibicarakan pada kongres itu, yakni pengajaran zending (Kristen) dan hubungannya antara pemerintah dengan zending. “Hal ini harus di bicarakan dengan hati-hati,” ujar Abendanon memulai sesi ini. Untuk itu Soewardi menekankan kewajiban penguasa untuk mendirikan sekolah-sekolah umum di tempat yang diinginkan, terutama untuk masyarakat pemeluk Islam, termasuk di tempat yang sudah ada sekolah zending. Soewardi dengan tegas menolak pernyataan-pernyataan negatif mengenai agama Islam. Ia sendiri mengakui sebagai “orang yang tidak memeluk sesuatu keyakinan apapun, tetapi saya memiliki pengertian sedemikian rupa hingga saya tidak serta-merta memandang Islam sebagai ‘agama Mohammadan,’ melainkan semata-mata sebagai ‘das Sein’ (keadaan nyata) orang pribumi.”

Kandau dengan perjuangan pendidikan bagi perempuan

Pada giliran pendidikan untuk perempuan, semula tidak banyak yang mengambil perhatian, dan kalaupun ada lebih banyak bersifat insidentil, bahkan juga negatif. Kontan saja di serang oleh Ratu Langie dan Soewardi. Untuk itu dalam sesi ini, tampil dua wanita Indonesia, masing-masing Nyonya Kandau dan Siti Soendari Darmabrata. Nyonya Kandau membela pendidikan pengajaran lanjutan bagi gadis-gadis di Minahasa, sedangkan Siti Soendari Darmabrata –menggunakan bahasa Melayu dan diterjemahkan oleh Soewardi- menuntut dilakukannya hal yang sama bagi gadis-gadis Jawa.

Nyonya Kandau sudah berada di Negeri Belanda beberapa bulan sebelumnya dan merupakan wanita Indonesia pertama yang berhasil meraih ijazah guru di Amsterdam. Mengenai Siti Soendari, tak ada data lebih lanjut tentang kehidupannya di Negeri Belanda. Ia meninggalkan Negeri Belanda tak lama setelah kongres berakhir. Pada sesi mengenai guru-guru pribumi dalam pengajaran dalam bahasa Belanda, giliran Dahlan Abdoellah menyampaikan kertas kerjanya. Ia berpendapat para guru pribumi ini sangat besar peranannya, dan untuk itu mereka harus mendapat pendidikan mencukupi.

Sam Ratu Langie mengajukan sejumlah argumentasi yang menentang pendidikan lanjutan di Negeri Belanda yang di dukung sepenuhnya oleh Soewardi. Kongres itu mendapat perhatian sangat intensif dari media pers Belanda. Koran-koran dan majalah-majalah memberitakan hasil diskusi-diskusi dalam kongres itu berkolom-kolom panjangnya.

Usul Soewardi mengenai ‘unifikasi’ sebagai reserve saja mendapat tanggapan pers dalam rubrik komentar, sebab usulan itu merugikan bagi murid-murid Eropa yang belajar di Indonesia. Namun yang paling di tonjolkan oleh media pers adalah para peserta Indonesia yang memperoleh pujian, karena mereka berbicara bahasa Belanda dengan fasih, “lancar dan kadang-kadang bahkan berbunga-bunga, dan hal ini membuktikan bahwa kesadaran mereka telah bangkit.” (Cuplikan dari buku Mengindonesiakan Indonesia oleh Harry Kawilarang)

Harry Kawilarang 5:38pm Jul 1