Masyarakat Sulawesi Utara sangat mendambakan satu kemajuan. Bukan saja mendambakannya tetapi sangat membutuhkan satu kemajuan dan pembaharuan diberbagai sektor. Menurut hemat saya yang perlu diutamakan adalah SEKTOR PERTANIAN  yang tangguh. Yang dapat mengangkat para petani ke tingkat yang memberikan rasa percaya diri kepada mereka. SULUT adalah subur. Tak mungkin kita abaikan warisan ini menjadi terbengkalai.

Ingat! Satu kasus yang mungkin bisa atau tidak bisa dijadikan contoh adalah kasus Pulau Buru ….. Pulau ini yang tidak menonjol sebelumnya kini oleh tangan2 terampil berpengalaman dan juga tangan2 yang tidak terampil dan tidak berpengalaman disulap menjadi lumbung beras untuk daerah sekitarnya.

Saya tidak percaya bahwa petani SULUT tak akan dapat memajukan pertanian didaerahnya. Semua tahu bahwa yang kurang adalah political will dari pemerintah DAN partisipasi masyarakat.

Demikian pula dengan PERIKANAN. Terlalu lama sudah kita menunggu “TAKE OFF” sektor ini. Berpuluh2 ahli dibidang ini telah tersedia, mungkin pendidikan mereka TERLALU tinggi sehingga lupa APA itu sektor pertanian.

NAMUN…… ADA HARAPAN ….. Perhatikanlah foto2 dibawah ini …. WAJAH2 CERAH, inteligen, semagat, humor …. sifat2 yang indah ini terpancar dari wajah mereka …. Kalau begitu APA yang menghalangi mereka untuk sekembali di SULUT tidak atau kurang dapat berkiprah atau memberi sumbangan positip yang memadai kepada kemajuan di daerah mereka?

Apakah sifat “SEI RE’EN” ataukah hal2 lain seperti masalah kesisteman yang menjadi penghalang. Mengapa kebanyakan dari mereka pada musim yang sesuai tiba2 ingin menjadi anggauta DPRD sedangkan mereka tidak tahu APA itu DEMOKRASI? Setelah meludeskan dana berjuta2 bahkan bermilyaran ada antara mereka yang ” berhasil” menjadi anggauta DPRD ini atau itu. Sesudah itu mereka berupaya untuk mencapai (tentunya) ROI atau Return on Investment, paling sedikit tetapi kalau bisa ingin dicapai “LABA” yang sebesar2nya (dengan cara yang tidak halal)  yang jauh diatas gaji dan honor ini dan itu yang sebenarnya menurut hemat saya sudah cukup besar (sekali) dan tidak seimbang dengan kinerja mereka.

Saya duga ini adalah akibat dari satu “MISUNDERSTANDING”.  Zaman Suharto dipakai sebagai andalan untuk “kesistiman DEMOKRASI” yang dikira akan terus seperti dulu. Sebenarnya saya kasihan kepada mereka tetapi “GEMES” juga (Ma’af pakai istilah Jawa). Akhirnya baik legislatip, apalagi eksekutip menjadi PENGHALANG bagi kemajuan yang sebenarnya adalah hasil kerja, hasil keringat masyarakat kecil.

Masyarakat kecilpun melihat keatas dan menyangka “THAT’s the way to do it”. Hayo rame2 skolain anak biar bisa jadi anggota legislatip atau eksekutip”……..  Bagaikan lingkaran setan, dan bukan lingkaran malah bentuk trayeknya adalah spiral …..

NAMUN, lagi-lagi NAMUN ……. kulihat lagi foto2 dibawah ini ….. Masa diantara mereka tak ada yang bisa memutuskan linkaran atau spiral setan itu dan membantu meningkatkan derajat para petani dan para nelayan di SULUT sekalian memacu OUTPUT daerah ini seperti juga beberapa generasi yang lalu dilakasanakan oleh para Oom2  Tante2 dan Ayah saya yang sudah 50 – 60 tahun meninggalkan kita. Nama2 mereka adalah nama2 yang saya sering dengar dalam diskusi2 dimeja makan atau kalau saya “nguping” obrolan Ibu saya dengan teman2 atau saudara2nya.

Saya, koq, yakin bahwa ada yang bisa. Perjuangan mereka akan sulit tapi dengan berdo’a kepada Yang Maha Kuasa mereka akan dapat mengatasi kesulitan itu satu per satu untuk mencapai hal2 yang didambakan masyarakat SULUT.

Depan satu Asrama BOSAMI di Bogor
Depan satu Asrama BOSAMI di Bogor
Mahasiswa Sulut di-Bandung
Mahasiswa Sulut di-Bandung
Acara di rumah Ir. Karamoy, Bogor
Acara di rumah Ir. Karamoy, Bogor
PERMASUT
PERMASUT
Kegiatan SAPU LAUT
Kegiatan SAPU LAUT


SEKIAN dan TERIMAKASIH, dan SELAMAT BERKARYA!!!!